JEMARI Sakato

collapse

Dukungan Psychosocial Support (PSS) bagi Anak Pascabencana di Kabupaten Agam

2026-04-22  JEMARI Sakato  153 views

jemarisakato.org, Kabupaten Agam - Bencana alam sering kali meninggalkan dampak yang tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga dirasakan secara emosional dan psikologis oleh para korban, terutama anak-anak. Ketika rumah rusak, sekolah terganggu, dan aktivitas sehari-hari berubah, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami tekanan mental. Melihat kondisi tersebut, JEMARI Sakato bersama Save the Children Indonesia (SCI) sebagai lembaga masyarakat sipil terus menginisiasi berbagai upaya respon kebencanaan. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Melalui kegiatan Psychosocial Support (PSS), JEMARI Sakato bersama mitra berupaya membantu anak-anak kembali menemukan rasa aman, semangat belajar, dan harapan setelah menghadapi situasi bencana.

Dalam upaya ini, Save the Children Indonesia turut memberikan dukungan melalui pendirian Temporary Learning Space sebagai ruang belajar sementara yang aman, pemulihan akses air bersih, serta pemberian dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak. Selain itu, mereka juga berperan dalam membantu pemulihan pendidikan agar anak-anak dapat kembali belajar dan bangkit secara bertahap setelah terdampak bencana.

Kondisi Sekolah Pascabencana

Bencana yang terjadi, tidak hanya berdampak pada lingkungan tempat tinggal masyarakat, tetapi juga mempengaruhi aktivitas pendidikan anak-anak. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan berkembang justru ikut terdampak. Beberapa fasilitas mengalami kerusakan, sementara sebagian lingkungan sekolah tidak lagi memungkinkan untuk digunakan secara normal.

Bagi anak-anak, kehilangan ruang belajar bukan sekadar kehilangan tempat menuntut ilmu. Sekolah juga menjadi ruang interaksi sosial, tempat mereka bertemu teman, bermain, dan membangun rasa percaya diri. Ketika ruang itu terganggu, rutinitas mereka pun ikut berubah. Banyak anak yang merasa kebingungan, kehilangan semangat belajar, bahkan mengalami ketakutan jika harus kembali mengingat kejadian bencana yang baru saja terjadi.

Sebagai upaya menjaga keberlanjutan proses pendidikan, dibangunlah sekolah darurat yang diharapkan dapat menjadi solusi sementara bagi para siswa. Sekolah darurat ini didirikan agar anak-anak tetap memiliki tempat belajar sambil menunggu kondisi sekolah utama pulih. Keberadaan sekolah darurat menjadi simbol bahwa proses pendidikan harus tetap berjalan meskipun dalam kondisi sulit.

Namun, tantangan tidak berhenti sampai di situ. Sekolah darurat yang dibangun di area tanah sawah atau perkebunan ternyata menghadapi persoalan baru. Pada saat hujan deras turun, air dari selokan di sekitar lokasi meluap dan masuk ke dalam bangunan sekolah darurat tersebut. Kondisi ini membuat ruang belajar sementara itu tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Sehingga untuk proses pembelajaran di pindahkan ke tempat pengungsian bencana.

Situasi tersebut tentu menjadi hambatan bagi anak-anak yang sudah sangat membutuhkan stabilitas setelah bencana. Ketika tempat belajar kembali terganggu, rasa tidak pasti kembali muncul. Bagi sebagian anak, hal ini menambah beban psikologis yang sebenarnya sedang mereka coba pulihkan.

Di tengah situasi yang penuh tantangan tersebut, perhatian terhadap kondisi psikologis anak menjadi semakin penting. Tidak cukup hanya memperbaiki bangunan atau menyediakan ruang belajar sementara, tetapi juga perlu memastikan bahwa anak-anak mampu pulih secara mental dan emosional. Dari sinilah kegiatan dukungan psikososial atau Psychosocial Support (PSS) menjadi sangat relevan untuk dilakukan.

IMG_0613-1
Kondisi sekolah pascabencana

Kegiatan Psychosocial Support (PSS)

Psychosocial Support  (PSS) merupakan pendekatan yang bertujuan untuk membantu individu, khususnya anak-anak, dalam memulihkan kondisi psikologis setelah mengalami peristiwa yang menekan seperti bencana. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengekspresikan perasaan mereka, mengurangi rasa takut, serta membangun kembali rasa percaya diri dan harapan.

Kegiatan PSS di Maninjau dilaksanakan melalui kolaborasi antara JEMARI Sakato, Save the Children Indonesia (SCI), serta tim dari Psikologi Universitas Negeri Padang (UNP). Kolaborasi ini menjadi penting karena pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama berbagai lembaga agar bantuan yang diberikan dapat menyentuh kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.

Kegiatan PSS dilaksanakan pada tanggal 28 Februari dan 7 Maret dengan melibatkan siswa-siswa yang terdampak bencana pada salah satu kecamatan di Kabupaten Agam. Dalam kegiatan ini, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan emosi secara positif. Aktivitas tersebut tidak selalu berbentuk pembelajaran formal, melainkan lebih banyak berupa permainan, diskusi ringan, menggambar, serta kegiatan refleksi sederhana yang membuat anak merasa nyaman untuk bercerita.

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah “pohon harapan”. Melalui metode ini, anak-anak diminta menuliskan atau menggambar harapan mereka pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan pada gambar pohon. Harapan-harapan tersebut sederhana namun penuh makna. Ada yang berharap sekolah mereka kembali normal, ada yang ingin bisa belajar dengan tenang, ada pula yang berharap keluarganya selalu dalam keadaan aman.

8-1
Siswa-siswi menulis harapan mereka di pohon harapan

Melalui kegiatan seperti ini, fasilitator dapat memahami kondisi emosional anak secara lebih mendalam. Beberapa anak bahkan sempat diajak berbicara secara pribadi untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka setelah mengalami bencana. Dari percakapan tersebut terlihat bahwa sebagian anak masih menyimpan rasa takut dan cemas, tetapi mereka juga memiliki semangat untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Menariknya, selama kegiatan berlangsung, ekspresi anak-anak perlahan berubah. Jika di awal kegiatan beberapa terlihat pendiam atau ragu untuk berpartisipasi, seiring berjalannya waktu mereka mulai lebih terbuka. Tawa mulai terdengar ketika permainan dilakukan, dan anak-anak mulai berani menyampaikan cerita serta harapan mereka. Perubahan kecil dalam ekspresi tersebut sebenarnya menjadi indikator penting bahwa kegiatan dukungan psikososial memberikan dampak positif. Anak-anak tidak hanya mendapatkan ruang untuk bermain, tetapi juga kesempatan untuk merasa didengar dan dipahami.

Dari kegiatan PSS yang dilakukan, terdapat beberapa capaian yang cukup berarti. Pertama, anak-anak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka setelah mengalami situasi yang menegangkan. Kedua, kegiatan ini membantu mengurangi ketegangan emosional yang sebelumnya dirasakan oleh sebagian siswa. Ketiga, kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan antarsiswa, karena mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi tersebut.

Pada akhirnya, pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali rumah atau memperbaiki fasilitas yang rusak. Yang tidak kalah penting adalah memulihkan harapan dan ketahanan mental masyarakat, terutama anak-anak. Mereka adalah generasi yang akan melanjutkan kehidupan di masa depan.

Melalui kegiatan dukungan psikososial seperti yang dilakukan ini, kita dapat melihat bahwa proses pemulihan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mendengarkan cerita anak, memberi mereka ruang untuk bermain, dan membantu mereka menuliskan kembali harapan. Dari langkah kecil itulah, perlahan-lahan kepercayaan diri dan semangat mereka untuk bangkit kembali dapat tumbuh.

Penulis: Saidul Aziz Mahendra    
Penyunting: Ulfa Azizah Febryzalita    

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,                                                                                 
Instagram: @jemari.sakato                                         
Facebook: JEMARI Sakato                                      
Linkedin: JEMARI Sakato                                      
Youtube: JEMARI Sakato     


Share: