JEMARI Sakato

collapse

Langkah Besar JEMARI Sakato Untuk 2026-2030

2026-06-02  JEMARI Sakato  14 views

jemarisakato.org, Padang – Strategi besar tidak pernah lahir dari ruangan yang sunyi. Ia tumbuh dari pertemuan banyak pikiran, dari lembaran-lembaran catatan yang penuh coretan, dari diskusi yang kadang serius, kadang hangat, namun selalu dipenuhi kepedulian terhadap masa depan. Suasana itulah yang terasa selama Workshop Rencana Strategis (Renstra) JEMARI Sakato 2026–2030 yang berlangsung pada 2 sampai 4 April di Hotel Pangeran City. Ruangan itu bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang hidup tempat gagasan, pengalaman lapangan, evaluasi, hingga harapan besar bertemu dalam satu tujuan, yaitu menyusun arah baru JEMARI Sakato agar lima tahun ke depan menjadi lebih kuat, relevan, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Setiap peserta yang terlibat dalam proses ini tidak hanya hadir membawa pandangan dan gagasan, tetapi juga pengalaman, berbagai persoalan yang dihadapi, serta keyakinan bersama bahwa masa depan lembaga perlu dibangun secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Sejak hari pertama, suasana workshop sudah terasa berbeda. Tidak ada peserta yang sekadar duduk mendengarkan. Setiap kelompok bekerja dan benar-benar tenggelam dalam diskusi panjang, menimbang apa yang sudah dilakukan, apa yang belum maksimal, dan apa yang harus menjadi prioritas besar ke depan. Di salah satu sudut ruangan, Kelompok 1 berbicara tentang “Kemandirian”, sebuah kata yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi tantangan besar bagi banyak lembaga sosial. Mereka membahas dengan serius bagaimana JEMARI Sakato tidak bisa selamanya bergantung pada donor.    Salah satu target yang muncul bahkan terbilang cukup ambisius, yakni pada tahun 2030, setidaknya 30 persen pendapatan lembaga harus berasal dari usaha sendiri. Dari sinilah muncul berbagai gagasan menarik, mulai dari pengembangan unit usaha pelatihan, pemanfaatan aset produktif seperti kendaraan, hingga impian memiliki kantor sendiri yang aman dari risiko bencana.

Beranjak ke Kelompok 2 yang berbicara tentang “Teknologi dan Inovasi”, diskusi mereka membawa pandangan pada bayangan masa depan yang lebih modern. Mereka tidak ingin hasil riset hanya berhenti menjadi laporan yang tersimpan di rak atau folder komputer. Mereka ingin data dan pengetahuan itu hidup, bisa diakses, dan benar-benar membantu masyarakat. Bayangan tentang desa dengan RPJM digital, data stunting yang mudah dibaca, potensi wisata yang terpetakan, hingga sistem mitigasi bencana berbasis teknologi menjadi topik yang terus diperbincangkan. Dari diskusi tersebut terlihat bagaimana JEMARI Sakato ingin bergerak lebih jauh dari lembaga pendamping masyarakat menjadi pusat inovasi sosial. Menariknya, inovasi yang dibayangkan bukan teknologi yang rumit dan jauh dari masyarakat, tetapi teknologi yang membumi, sederhana, dan bisa langsung dipakai oleh desa-desa.

Menariknya, di Kelompok 3 ini, mereka berdiskusi tentang “Jejaring dan Replikasi”. Di sini dapat dilihat satu hal penting, yaitu kerja baik akan kehilangan makna jika hanya berhenti di satu tempat. Kelompok ini menekankan bahwa praktik baik yang berhasil di satu wilayah harus bisa diperluas ke wilayah lain. Target mereka pun jelas, membangun lebih banyak kerja sama dengan pihak swasta, media, dan berbagai pemangku kepentingan setiap tahun. Mereka ingin JEMARI Sakato tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem besar yang saling menguatkan. Dari diskusi mereka, muncul keyakinan bahwa perubahan sosial yang besar hanya mungkin terjadi ketika pengetahuan dibagikan, jejaring diperkuat, dan keberhasilan direplikasi.

Di sisi lain, Kelompok 4 dan 5 membawa diskusi ke jantung utama kerja-kerja sosial: “Pelayanan Publik dan Inklusivitas.” Mereka berbicara tentang kelompok rentan, perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan mereka yang sering kali berada di pinggir kebijakan. Pada kelompok diskusi ini terlihat bahwa Renstra bukan hanya soal pertumbuhan organisasi, tetapi juga tentang memastikan siapa yang benar-benar diperjuangkan. Mereka ingin masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pengawas, pengkritik, dan pengambil peran dalam pembangunan. Ada target besar agar komunitas dampingan semakin mandiri dalam mengawal layanan publik. 

Di tengah berbagai gagasan besar, forum ini juga menjadi ruang evaluasi internal organisasi. JEMARI Sakato dengan jujur membuka catatan tentang berbagai hal yang masih perlu diperbaiki, seperti SOP yang belum maksimal, transparansi keuangan yang harus diperkuat, hingga regenerasi kepemimpinan yang perlu lebih jelas menjadi pembahasan terbuka. Sikap terbuka tersebut justru menjadi salah satu kekuatan penting dalam proses penyusunan Renstra. Tidak banyak organisasi yang berani mengakui kelemahannya di tengah pembahasan visi besar, akan tetapi justru dari sikap terbuka inilah kita dapat melihat keseriusan JEMARI Sakato untuk bertumbuh, bukan sekadar terlihat baik di permukaan.

Workshop tersebut dapat dimaknai sebagai proses penguatan organisasi secara menyeluruh. Fondasi kelembagaan ditinjau kembali, kapasitas organisasi diperkuat, dan ruang gerak pengembangan diperluas tanpa meninggalkan nilai-nilai utama yang selama ini menjadi identitas JEMARI Sakato. Semangat partisipatif, gotong royong, kedekatan dengan masyarakat, serta respons cepat dalam situasi krisis tetap dipertahankan di tengah dorongan menuju digitalisasi, profesionalisme, dan kemandirian ekonomi.

Menjelang akhir kegiatan, semua gagasan besar dari berbagai kelompok sesungguhnya mengarah pada tujuan yang sama, yaitu menjadikan JEMARI Sakato sebagai lembaga yang mandiri, profesional, adaptif, namun tetap membumi. Bukan sekadar organisasi yang berkembang secara internal, tetapi lembaga yang benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat luas. Workshop ini bukan hanya tentang menyusun dokumen Renstra, Ini adalah ruang yang di mana harapan dirumuskan secara serius, kritik diterima dengan terbuka, dan masa depan dibangun bersama.

Setelah melalui rangkaian diskusi, evaluasi, dan perumusan target selama kegiatan yang berlangsung pada 2–4 April 2026 di Hotel Pangeran City, seluruh hasil pembahasan tersebut ditargetkan sudah selesai disusun menjadi dokumen final Renstra dalam beberapa bulan ke depan. Dokumen ini direncanakan akan resmi diluncurkan pada kegiatan Rapat Tahunan Anggota (RTA) JEMARI Sakato yang akan dilaksanakan pada 14 Juli 2026. Momen peluncuran tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun JEMARI Sakato yang ke-26.

Jika pada tahun 2030 JEMARI Sakato mampu tumbuh menjadi lembaga yang lebih kokoh, modern, dan berpengaruh, maka proses penyusunannya berawal dari forum penuh diskusi dan refleksi ini. Berbagai gagasan lahir dari lembaran-lembaran catatan, perdebatan panjang, serta semangat bersama untuk merancang arah organisasi yang lebih terukur. Dari proses tersebut terlihat bahwa perubahan besar tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui keberanian untuk merencanakan, mengevaluasi, dan menyusun masa depan secara bersama-sama.

Penulis: Saidul Aziz Mahendra

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya,                      
Instagram: @jemari.sakato                                                          
Facebook: JEMARI Sakato                                                       
Linkedin: JEMARI Sakato                                                       
Youtube: JEMARI Sakato  


Share: