JEMARISakato

collapse

Dari Pemahaman Risiko hingga Uji Renkon: Langkah Nyata Membangun Desa Tangguh dan Inklusif di Bumi Sikerei melalui KSB

2026-08-28  JEMARI Sakato

KEPULAUAN MENTAWAI - jemarisakatosumbar.org — Terletak di gugusan pulau terluar dengan bentang alam yang khas, Kabupaten Kepulauan Mentawai menghadapi tantangan geografis sekaligus potensi kerentanan terhadap berbagai ancaman bencana, mulai dari banjir, cuaca ekstrem, hingga gempa bumi dan tsunami. Menyadari bahwa masyarakat desa adalah garda terdepan penyelamatan, JEMARI Sakato bersama ASB (Arbeiter-Samariter-Bund) South–South East Asia dengan dukungan pendanaan dari BMZ Jerman melalui program GREAT (Gender Responsive and Inclusive Regional Adaptation For Disaster and Climate Change Adaptation) Mentawai, menyelenggarakan rangkaian lokakarya peningkatan kapasitas Kelompok Siaga Bencana (KSB) / Disaster Preparedness Team (DPT).

Kegiatan intensif ini digelar di dua lokasi secara beruntun, yakni di Aula Desa Sidomakmur pada 11-12 Agustus 2026 dan Aula Desa Matobe pada 13-14 Agustus 2026. Agenda ini melibatkan kolaborasi multipihak yang terdiri dari anggota KSB, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Camat Sipora Selatan, BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Forum Disabilitas, serta Forum Inklusi Disabilitas (FID). Kedua desa yang mendapatkan pelatihan ini merupakan desa yang telah menginisiasi penyusunan dokumen rencana kontijensi banjir beberapa waktu yang lalu. Banjir merupakan salah satu ancaman bencana yang secara rutin terjadi di Matobe dan Sidomakmur.


Mengupas Tuntas Dasar Manajemen Bencana dan Rumus Risiko

Rangkaian kegiatan diawali dengan penguatan landasan keilmuan mengenai Dasar-Dasar Manajemen Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Para peserta diajak membedah siklus penanggulangan bencana secara utuh, mencakup fase pra bencana (pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan), saat tanggap darurat, hingga pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi).    
Fokus utama ditekankan pada pentingnya penguatan pada tahap prabencana agar kesiapsiagaan tidak hanya dipahami sebagai respons reaktif saat bencana melanda, melainkan upaya sadar dan terencana untuk menekan risiko sedini mungkin.    
Dalam sesi ini, pemateri mengurai konsep risiko kebencanaan melalui formula mendasar:

Risiko(R) =Bahaya(H) × Kerentanan(V)
Kapasitas(C)

Melalui pemahaman rumus ini, peserta menyadari bahwa ancaman bahaya alam tidak dapat dihindari sepenuhnya, namun tingkat risiko kerugian dan korban jiwa dapat diminimalkan dengan menurunkan kerentanan serta melipatgandakan kapasitas masyarakat. Konsep kemitraan pentahelix (pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media) turut ditekankan agar koordinasi lintas sektor telah terbangun kokoh sebelum situasi darurat tiba.    
 

Memperkuat Peran KSB dan Menegakkan Prinsip GEDSI

Selain pemahaman dasar,  pembahasan difokuskan juga pada penguatan struktur, peran, dan komunikasi kelembagaan KSB agar mampu bekerja secara inklusif. Melalui tinjauan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa tentang pembentukan KSB Desa, peserta memetakan rantai komando, pembagian tugas antara unsur pembina, pelaksana lapangan, dan pengelola informasi agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi.

Pengarusutamaan perspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) menjadi ruh utama pelatihan ini. KSB ditekankan bukan hanya untuk melindungi masyarakat umum, tetapi memastikan perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas mendapatkan hak yang setara untuk dilibatkan dalam perencanaan, pengambilan keputusan, hingga mekanisme evakuasi. Hal ini disampaikan oleh Lany Verayanti, Konsultan Ahli terkait GEDSI yang dihadirkan oleh program GREAT untuk memperkuat pemahaman anggota KSB terkait inklusivitas dalam pengelolaan bencana.  

"Kesiapsiagaan yang tangguh menuntut ketersediaan data terpilah yang akurat. Pendataan warga harus merinci jumlah anak-anak, ibu hamil beserta usia kandungan, lansia, penyandang disabilitas, hingga data golongan darah warga. Data ini menjadi kompas utama bagi tim evakuasi dan logistik agar tindakan pertolongan tepat sasaran," ungkap Lany Verayanti

Uji Meja (Table Top Exercise) untuk Mereview Renkon Banjir

Sebagai jembatan antara teori dan implementasi, agenda workshop diperkuat dengan peninjauan draf Rencana Kontinjensi (Renkon) Banjir yang telah dimiliki oleh Desa Matobe dan Sidomakmur. Draft Rencana Kontijensi kemudian diuji secara langsung pada hari kedua melalui metode Table Top Exercise (TTX) atau simulasi gladi meja.    
Dalam TTX, peserta dihadapkan pada skenario bencana banjir akibat intensitas hujan ekstrem dan luapan sungai. Secara bertahap, peserta menyusun langkah taktis jam demi jam berdasarkan alur komando dan SOP yang tertuang dalam dokumen Renkon:

  1. Bidang TRC & Evakuasi: Menguji kaji cepat di lapangan, menyisir wilayah tergenang, memastikan jalur evakuasi aman, serta memprioritaskan evakuasi warga rentan ke titik kumpul darurat.
  2. Bidang Data & Informasi: Memantau tren debit air sungai dan peringatan dini cuaca, menyalurkan informasi cepat ke rantai pimpinan desa, serta memperbarui data korban terdampak secara real-time.
  3. Bidang Logistik & Dapur Umum: Mengaktivasi rantai pasok pangan darurat, tenda pengungsi, serta perlengkapan higienis, dengan catatan penting mengenai pemenuhan standar air bersih dan sanitasi di posko darurat.
  4. Bidang PPGD / Kesehatan: Mengorganisasi pos kesehatan lapangan, obat-obatan darurat, tabung oksigen, penanganan trauma, hingga penyediaan ruang persalinan darurat.

Proses simulasi meja ini secara efektif membuka ruang evaluasi bersama untuk menambal celah dalam draf Renkon banjir, mulai dari kebutuhan sarana komunikasi radio (Handy Talky/HT) antar-dusun hingga kecepatan distribusi logistik.

Komitmen Nyata dan Rencana Tindak Lanjut Komunitas

Pelatihan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang melibatkan komitmen konkret dari seluruh unsur desa:

  1. Pemerintah Desa: Berkomitmen menyempurnakan SK KSB dan finalisasi dokumen Renkon, mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk pengadaan rompi identitas serta perangkat komunikasi HT, memfasilitasi posko/sekretariat KSB, hingga memproses Peraturan Desa (Perdes) Kebencanaan.
  2. Kelompok Siaga Bencana (KSB): Menetapkan posko operasional, memutakhirkan data pilah warga berbasis dusun, dan merencanakan pelatihan lanjutan terkait kaji cepat situasi (rapid assessment) bersama FPRB.
  3. FPRB & Masyarakat: Menjadwalkan aksi pembersihan aliran sungai guna memitigasi risiko sedimentasi dan sumbatan banjir berkala di desa Matobe.

Melalui integrasi pengetahuan dasar manajemen bencana, komitmen inklusivitas GEDSI, serta uji operasional Renkon melalui TTX, Desa Sidomakmur dan Desa Matobe membuktikan kesiapan mereka melangkah maju menuju desa tangguh bencana yang melindungi seluruh lapisan warganya tanpa terkecuali.

Penulis: Affifa Syah Raudhatul Jannah    
(Media and Communication Officer-JEMARI Sakato)

Kunjungi media sosial JEMARI Sakato lainnya:  
Instagram: @jemari.sakato  
Facebook: JEMARI Sakato  
Linkedin: JEMARI Sakato  
YouTube: JEMARI Sakato


Share: